Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Tragedi Kabut Asap di Barsel: ASN P3K Meninggal Dunia Usai Alami Sesak Napas Berat

✍️ Fikri Ramadhan 🕒 17 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Masker Oksigen
Masker Oksigen Foto: GettyImages

Ancaman bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, kembali memakan korban jiwa. Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) berinisial RY (40) dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami gejala sesak napas akut. Korban menghembuskan napas terakhirnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Jaraga Sasameh Buntok pada Kamis sore sekitar pukul 15.00 WIB. Meninggalnya almarhum diduga kuat memiliki keterkaitan erat dengan memburuknya kualitas udara di kawasan setempat dalam beberapa pekan terakhir akibat kepungan kabut asap karhutla. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi kesehatan korban memburuk secara mendadak setelah menyelesaikan aktivitas pekerjaan harian. Sesampainya di rumah kediamannya di Jalan Ibunda VI, Buntok, rasa sesak napas yang dialami RY kian parah. Pihak keluarga yang cemas melihat kondisi tersebut langsung melarikannya ke IGD RSUD Jaraga Sasameh Buntok agar segera mendapatkan pertolongan medis darurat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan, Agus In'Yulius, mengonfirmasi kabar duka tersebut. Dalam keterangannya, Agus memaparkan alur kejadian yang dialami oleh korban sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.

“Setelah dilakukan perawatan di RSUD, tidak lama almarhum meninggal dunia. Ini diduga memang ada hubungannya dengan kondisi atau kualitas udara yang terjadi di Barsel,” ungkap Agus.

Agus juga memberikan fakta relevan lainnya terkait sosok almarhum semasa hidup. Selain menjalankan tugas rutinnya sebagai ASN P3K, RY selama ini dikenal aktif sebagai salah seorang relawan dalam upaya penanggulangan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Barito Selatan. Namun demikian, Agus menegaskan bahwa pada saat insiden keluhan sesak napas itu terjadi, almarhum sedang tidak berada dalam jadwal piket atau tugas lapangan pemadaman api. Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah almarhum RY kemudian dibawa ke rumah duka dan diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Kelurahan Pendang, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan.

Proses penanganan medis mendalam sempat dilakukan oleh tim dokter di RSUD Jaraga Sasameh Buntok sejak korban pertama kali tiba di ruang gawat darurat. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD., FINASIM, menjelaskan detail kondisi klinis pasien saat dirawat. Menurutnya, pasien datang dengan keluhan kelainan pernapasan yang cukup berat.

Dari hasil pemeriksaan intensif, dokter menemukan bahwa terdapat komplikasi organ vital yang memicu keparahan kondisi korban saat tiba di rumah sakit.

“Setelah dilakukan penanganan, diketahui salah satu faktor ada gangguan di paru-paru dengan jantungnya. Ketika sudah dilakukan penanganan sekitar dua sampai tiga jam, tapi tidak tertolong dan meninggal di IGD kemarin,” jelas Dadang.

Meskipun demikian, dr. Dadang menggarisbawahi bahwa kepastian medis mengenai hubungan kausalitas langsung antara pemicu kematian korban dengan paparan kabut asap karhutla masih memerlukan evaluasi klinis komprehensif. Kendati demikian, paparan udara beracun dari pencemaran asap diakui menjadi salah satu faktor risiko tinggi yang memperburuk kondisi pasien yang memiliki riwayat atau potensi gangguan organ dalam seperti paru-paru dan jantung. 

Peristiwa tragis yang menimpa ASN P3K ini menambah panjang daftar kasus kematian akibat gangguan saluran pernapasan di Barito Selatan selama musim kemarau dan karhutla tahun ini. Tren penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun pneumonia tercatat mengalami lonjakan signifikan seiring pekatnya kabut asap yang menyelimuti pemukiman warga.

Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan mencatat rekam jejak angka kematian akibat pneumonia yang terus merambat naik sejak Agustus. dr. Dadang Baskoro Nugroho mengungkapkan bahwa fenomena lonjakan kasus pernapasan ini berjalan beriringan dengan intensitas karhutla yang meluas di berbagai kawasan.

“Sejak bulan Agustus lalu di Barsel sudah ada beberapa pasien yang meninggal akibat pneumonia,” ujarnya.

Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan Barito Selatan, akumulasi korban jiwa akibat penyakit pneumonia tercatat mencapai 7 orang dalam rentang waktu tiga bulan terakhir:

  • Agustus: Rincian kematian mencatatkan sebanyak 3 pasien meninggal dunia.

  • September: Terdata sebanyak 2 pasien meninggal dunia.

  • Oktober: Hingga pertengahan bulan, tercatat 2 pasien meninggal dunia (termasuk kasus balita/bayi dan ASN).

Kondisi maraknya kasus pneumonia fatal ini menjadi alarm kewaspadaan tingkat tinggi bagi otoritas kesehatan dan warga lokal.

Melihat situasi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik serta tingginya risiko dampak kabut asap karhutla, pemerintah daerah terus mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan mandiri. Dinas Kesehatan dan BPBD Barsel meminta warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak ada keperluan mendesak.

Apabila harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat diwajibkan menggunakan masker pelindung standar (seperti masker N95 atau masker medis) guna menyaring partikel berbahaya PM2.5 yang terkandung dalam asap pembakaran. Atensi dan perlindungan ekstra sangat direkomendasikan bagi kelompok-kelompok rentan, di antaranya:

  1. Bayi dan anak-anak balita.

  2. Kelompok lanjut usia (lansia).

  3. Ibu hamil.

  4. Warga yang memiliki riwayat komorbiditas seperti astma, bronchitis, penyakit paru kronis, serta gangguan kardiovaskular (jantung).

Pemerintah daerah mengimbau warga yang mulai merasakan gejala seperti batuk berlanjut, nyeri dada, pusing, atau sesak napas agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis sedini mungkin sebelum kondisi memburuk. Penanganan bencana karhutla di Barito Selatan kini tidak hanya berfokus pada upaya pemadaman darat dan udara terhadap titik-titik api, tetapi juga difokuskan pada mitigasi dampak kesehatan masyarakat demi mencegah bertambahnya korban jiwa.

FR
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update