Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Perjuangan Petugas Karhutla Kobar Padamkan Kebakaran Lahan: Pertaruhkan Keselamatan Demi Tugas

✍️ Fikri Ramadhan 🕒 15 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Komandan Pleton (Danton) Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kobar
Komandan Pleton (Danton) Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kobar Foto: istimewa

KOTAWARINGIN BARAT — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengepung wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, memaksa para personel regu pemadam kebakaran bekerja melampaui batas kemampuan fisik dan mental mereka. Di balik kepulan asap pekat yang menyelimuti lahan gambut, terdapat kisah pengorbanan tak ternilai dari para petugas yang harus merelakan waktu bersama keluarga demi memenuhi panggilan tugas negara.

Menghadapi kobaran api yang sewaktu-waktu dapat mengepung dan mengancam keselamatan jiwa, para personel di lapangan harus bersiap menghadapi situasi darurat tanpa kepastian waktu kapan pertempuran melawan api akan berakhir. Tugas berat ini tidak hanya menguji ketahanan fisik di tengah cuaca ekstrem dan medan yang sulit dijangkau, tetapi juga menuntut ketabahan psikologis saat harus berpisah lama dengan anak dan istri di rumah.

Pengorbanan Keluarga demi Tuntutan Tugas

Bagi para anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta tim gabungan penanganan karhutla di Kobar, panggilan darurat kebakaran bisa datang kapan saja tanpa mengenal kompromi. Ketika titik panas (hotspot) terdeteksi membesar di tengah rawa gambut, mereka harus segera memanggul perlatan berat dan menuju lokasi bencana, meninggalkan kehangatan rumah tangga tanpa sempat mengucapkan perpisahan yang layak.

Tidak jarang, operasi pemadaman di area gambut yang dalam memakan waktu hingga berhari-hari. Selama periode tersebut, komunikasi dengan keluarga kerap terputus akibat minimnya sinyal telepon di area terpencil. Rasa cemas dan khawatir yang dialami oleh anggota keluarga di rumah menjadi beban tersendiri yang harus ditanggung oleh para pemadam. Namun, demi mencegah bencana asap yang lebih luas dan menjaga keselamatan masyarakat banyak, kerinduan serta kekhawatiran tersebut terpaksa dikesampingkan.

Para istri dan anak-anak petugas harus terbiasa dengan ketidakpastian. Setiap kali suami atau ayah mereka berangkat bertugas, doa tiada putus dipanjatkan agar mereka kembali dalam kondisi selamat. Risiko terpapar asap beracun, kelelahan ekstrem, hingga ancaman terjebak kobaran api yang berhembus liar akibat angin kencang senantiasa membayangi setiap langkah kaki petugas di lapangan.

Realita Medan Tempur: Gambut Dalam, Cuaca Panas, dan Risiko Terjebak

Memadamkan kebakaran lahan gambut di Kotawaringin Barat memiliki tingkat kesulitan yang jauh berbeda dibandingkan pemadaman kebakaran pemukiman biasa. Lahan gambut memiliki karakteristik unik di mana api kerap membakar lapisan bawah tanah (underground fire) hingga kedalaman bermeter-meter. Meski permukaan luar tampak sudah padam, bara api di dalam tanah gambut tetap menyala dan siap menyemburkan kobaran baru sewaktu-waktu jika tertiup angin kencang.

Proses pemadaman menuntut kerja ekstra keras. Petugas harus menyusuri garis semak beludru dan rawa dengan memanggul mesin pompa air, selang yang berat, serta logistik terbatas. Tak jarang mereka harus berjalan kaki sejauh berkilometer-kilometer karena akses kendaraan roda empat maupun roda dua terhalang oleh topografi tanah yang lembek dan vegetasi yang lebat.

Dalam situasi pemadaman yang berlangsung hingga malam hari, tantangan bertambah berlipat ganda. Jarak pandang yang sangat terbatas akibat kombinasi pekatnya asap dan kegelapan malam meningkatkan risiko petugas tersesat atau terperosok ke dalam lubang gambut yang membara. Suhu panas yang menyengat dari dalam tanah serta paparan gas karbon monoksida secara terus-menerus menguras energi tubuh hingga batas kritis.

Solidaritas dan Dedikasi Tanpa Batas di Garis Depan

Di tengah segala keterbatasan dan marabahaya yang mengintai, semangat kebersamaan dan jiwa korsa di antara sesama petugas menjadi benteng utama kelangsungan hidup mereka. Saling menjaga, berbagi makanan dan air minum yang tersisa, serta memberikan dorongan moral ketika rekan sejawat mulai kelelahan adalah pemandangan harian di posko penanggulangan maupun di titik pemadaman langsung.

Kehadiran tim medis serta ketersediaan logistik pendukung memang berupaya dimaksimalkan oleh pemerintah daerah, namun dinamika perubahan cuaca dan arah angin di lapangan sering kali memaksa para pemadam mengambil keputusan cepat demi menyelamatkan diri sekaligus melokalisasi area kebakaran. Dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh para petugas karhutla ini menjadi bukti nyata komitmen benteng pertahanan terdepan dalam melindungi ekosistem lingkungan dan kesehatan masyarakat Kobar dari dampak buruk bencana asap.

Kalimat Langsung dari Narasumber Utama

Meskipun menghadapi marabahaya yang nyata dan risiko tinggi di tengah hutan serta rawa, para petugas tetap memegang teguh komitmen profesionalisme mereka. Rasa tanggung jawab terhadap keselamatan lingkungan dan masyarakat menjadi pelecut semangat utama ketika rasa lelah menguras tenaga di medan pemadaman.

Dalam sebuah kesempatan peninjauan dan evaluasi penanganan karhutla di lapangan, Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Barat, Syahruna, memberikan kesaksian langsung terkait dinamika dan perjuangan keras anak buahnya di garis depan pemadaman:

"Mereka bekerja tanpa mengenal waktu. Kadang harus bertaruh nyawa di tengah kobaran api dan asap pekat, meninggalkan anak dan istri di rumah demi tugas kemanusiaan ini."

Syahruna juga menegaskan betapa tingginya risiko yang harus dihadapi oleh setiap personel saat melangkah masuk ke area kebakaran lahan gambut yang sangat bergelombang dan rawan memicu jebakan api:

"Kondisi medan sangat berat dan berbahaya. Namun semangat para petugas di lapangan tidak pernah surut untuk memadamkan api sampai tuntas."

Harapan Dukungan Masyarakat dan Pencegahan Karhutla

Perjuangan gigih para petugas di medan bahaya idealnya dibarengi dengan kesadaran penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Kebanyakan kasus kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kotawaringin Barat masih didominasi oleh faktor kelalaian manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar secara sembarangan maupun pembuangan punting rokok di area vegetasi kering.

BPBD Kobar tak henti-hentinya mengimbau warga agar tidak lagi melakukan aktivitas pembakaran lahan, terutama saat memasuki musim kemarau panjang. Pencegahan sejak dini dari tingkat tapak merupakan kunci utama agar para petugas pemadam tidak perlu terus-menerus mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka di tengah medan pertempuran karhutla.

Dukungan, apresiasi, serta kepedulian dari masyarakat dengan cara menjaga lingkungan dan melaporkan titik api sejak dini akan sangat membantu mengorbankan beban kerja para pahlawan kemanusiaan ini, sehingga mereka dapat kembali pulang ke rumah menyapa keluarga dalam keadaan selamat.

FR
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update