Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Mengenal Tiga Jenderal Legendaris Indonesia: Nasution, Soedirman, dan Benny Moerdani

✍️ Maya Sari 🕒 05 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
TIGA WARISAN STRATEGI: Ilustrasi siluet menggambarkan Nasution dengan pemikiran perang gerilya, Soedirman memimpin perjuangan dari atas tandu, serta Benny Moerdani dalam komando pembebasan sandera Woyla di Thailand.
TIGA WARISAN STRATEGI: Ilustrasi siluet menggambarkan Nasution dengan pemikiran perang gerilya, Soedirman memimpin perjuangan dari atas tandu, serta Benny Moerdani dalam komando pembebasan sandera Woyla di Thailand. Foto: istimewa

kalbarin.com – Sejarah militer Indonesia mencatat sejumlah tokoh yang menghadapi tantangan berbeda dalam mempertahankan kepentingan dan keamanan negara. Tiga di antaranya adalah Abdul Haris Nasution, Jenderal Soedirman, dan Benny Moerdani.

Ketiganya memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Nasution dikenal melalui pemikiran perang gerilya, Soedirman menjadi simbol kepemimpinan dalam perang kemerdekaan, sedangkan Benny Moerdani memiliki peran penting dalam operasi pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia Woyla di Bangkok.

Jejak ketiganya bahkan melampaui Indonesia. Pemikiran Nasution dituangkan dalam buku yang diterbitkan di Amerika Serikat, patung Soedirman berdiri di kompleks Kementerian Pertahanan Jepang, sementara operasi Woyla membawa nama Benny dalam sejarah kerja sama keamanan Indonesia di luar negeri.

AH Nasution dan Pemikiran Perang Gerilya

Sebelum masuk ke dunia militer, Abdul Haris Nasution memiliki latar belakang pendidikan keguruan. Ia pernah menempuh pendidikan di Hollandsche Inlandsche Kweekschool (HIK) Bandung dan mengajar di Bengkulu serta Palembang.

Ketertarikannya pada dunia militer kemudian membawanya mengikuti pendidikan perwira cadangan KNIL di Bandung.

Pengalaman menghadapi Agresi Militer Belanda turut membentuk pemikiran Nasution mengenai strategi perang. Ia menilai pertahanan linear memiliki kelemahan ketika menghadapi lawan yang mempunyai keunggulan persenjataan.

Karena itu, konsep pertahanan kemudian diarahkan pada pembentukan kantong-kantong perlawanan dan perang gerilya. Strategi tersebut tidak hanya menyangkut pertempuran, tetapi juga perhubungan, organisasi pasukan, kesehatan hingga dukungan masyarakat.

Pemikiran Nasution kemudian dituangkan dalam buku Pokok-Pokok Gerilya. Buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Fundamentals of Guerrilla Warfare di New York pada 1965.

Karya tersebut kemudian mendapat perhatian dari peneliti asing dan dibahas dalam The Journal of Asian Studies pada 1966.

Soedirman, Guru yang Menjadi Panglima

Berbeda dengan Nasution, Soedirman dikenal luas sebagai Panglima Besar yang memimpin perjuangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Sebelum menjadi pemimpin militer, Soedirman pernah menjadi guru dan kepala sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Ia juga aktif dalam organisasi kepemudaan dan kepanduan.

Soedirman kemudian terpilih sebagai pemimpin tertinggi Tentara Keamanan Rakyat pada November 1945. Presiden Soekarno melantiknya sebagai Panglima Besar pada Desember tahun yang sama.

Salah satu episode penting dalam perjalanan militernya adalah Pertempuran Ambarawa. Dalam pertempuran tersebut, strategi yang dikenal sebagai supit urang digunakan untuk mengepung posisi lawan dari dua sisi.

Strategi tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang melekat dalam sejarah perjuangan Soedirman.

Memimpin Gerilya Saat Kondisi Sakit

Ujian terbesar Soedirman kembali muncul ketika Belanda menyerang Yogyakarta pada Desember 1948.

Dalam kondisi kesehatan yang terganggu, Soedirman meninggalkan Yogyakarta dan memimpin perjuangan melalui gerilya. Ia tetap menjaga komunikasi serta memberikan perintah kepada pasukan meskipun harus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Perjalanan tersebut berlangsung selama berbulan-bulan. Dalam sejumlah perjalanan, Soedirman menggunakan tandu dengan bantuan masyarakat dan para pengawalnya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya melibatkan pemimpin dan tentara, tetapi juga masyarakat yang membantu perjalanan serta kebutuhan pasukan.

Jejak Soedirman juga dapat ditemukan di Jepang. Patungnya berdiri di kompleks Kementerian Pertahanan Jepang sebagai bagian dari hubungan pertahanan kedua negara.

Benny Moerdani dan Operasi Woyla

Sementara itu, Benny Moerdani dikenal antara lain karena keterlibatannya dalam operasi pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla di Bangkok pada 1981.

Pesawat dengan nomor penerbangan GA-206 tersebut dibajak ketika melayani rute Jakarta–Palembang–Medan. Pesawat kemudian dialihkan ke Penang sebelum akhirnya menuju Bangkok.

Krisis tersebut berkembang menjadi persoalan lintas negara karena pesawat dan para sandera berada di Thailand.

Benny yang saat itu memiliki posisi penting dalam struktur intelijen dan militer Indonesia terlibat dalam pengendalian operasi. Pelaksanaan di lapangan dipimpin oleh Letnan Kolonel Sintong Panjaitan.

Sebelum operasi dilakukan, tim Indonesia menjalani persiapan, termasuk mempelajari pesawat DC-9 dan berlatih di hanggar Garuda.

Persiapan tersebut menjadi bagian penting sebelum pasukan menjalankan misi pembebasan.

Operasi akhirnya dilakukan pada 31 Maret 1981 setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah Thailand. Pasukan Indonesia berhasil membebaskan para sandera.

Namun, operasi tersebut juga menimbulkan korban dari pihak pasukan. Prajurit Achmad Kirang dan pilot Herman Rante mengalami luka serius dan kemudian meninggal.

Tiga Tokoh, Tiga Tantangan

Nasution, Soedirman dan Benny Moerdani menghadapi persoalan yang berbeda dalam perjalanan mereka.

Nasution berkontribusi melalui pemikiran strategis mengenai perang gerilya. Soedirman menunjukkan kepemimpinan dalam mempertahankan perjuangan meski menghadapi keterbatasan dan kondisi kesehatan. Sementara Benny Moerdani berperan dalam pengendalian operasi yang melibatkan keselamatan warga negara Indonesia di wilayah negara lain.

Warisan ketiganya menunjukkan bahwa sejarah militer Indonesia tidak hanya dibangun melalui pertempuran, tetapi juga melalui strategi, kepemimpinan, organisasi dan kemampuan menghadapi situasi yang kompleks. 

MS
Maya SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update