Ancaman Kabut Asap Karhutla Terhadap Kesehatan Hewan Peliharaan: Kasus ISPA dari Kucing Hingga Ular Melonjak di Kotawaringin Barat
KOTAWARINGIN BARAT — Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat, melainkan juga membawa dampak serius bagi satwa peliharaan. Di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kini dilaporkan menyerang berbagai jenis hewan peliharaan, mulai dari mamalia domestik seperti kucing hingga reptil eksotis seperti ular. Fasilitas pelayanan kesehatan hewan lokal mencatat kenaikan signifikan jumlah pasien hewan yang membutuhkan penanganan medis akibat terpapar udara beracun.
Peningkatan jumlah hewan yang menderita gangguan pernapasan ini terpantau secara konsisten di Paws Health Vet Clinic, Kotawaringin Barat. Berdasarkan data klinis selama masa kabut asap berlangsung, persentase kunjungan hewan yang mengalami masalah saluran pernapasan meningkat hingga 30 persen dibanding periode normal sebelum kabut asap menyelimuti kawasan tersebut.
Praktisi medis veteriner di Paws Health Vet Clinic Kobar, Dinda, memaparkan perbandingan data pasien yang masuk sebelum dan selama bencana karhutla terjadi. Ia mengungkapkan bahwa sebelum bencana asap merebak, jumlah hewan yang mengalami ISPA tergolong standar.
"Kalau sebelum karhutla pasien ISPA itu ada, terutama pada kucing ya, sekitar 10 ekor per bulan. Tapi selama kabut asap ini meningkat sampai 13-14 ekor per bulan," kata Dinda, Minggu (18/10/2026).
Selain lonjakan kuantitas pasien hewan, pihak medis veteriner juga menyoroti perubahan kualitas serta tingkat keparahan gejala klinis yang dialami oleh para satwa. Hewan-hewan peliharaan tidak lagi sekadar menunjukkan gejala iritasi ringan, tetapi sudah memasuki tahap gangguan saluran pernapasan yang tergolong berat. Kondisi ini menuntut penanganan medis yang lebih intensif guna mencegah risiko komplikasi fatal yang mengancam nyawa satwa.
Iritasi saluran pernapasan akibat partikel halus dan zat berbahaya dalam asap karhutla juga terbukti memicu komplikasi pada berbagai jenis satwa. Gejala umum yang sering ditemukan pada kucing dan mamalia lainnya mencakup batuk terus-menerus, bersin, lemas, penurunan nafsu makan, hingga napas yang terengah-engah. Sementara pada jenis reptil seperti ular, paparan zat iritan di udara dapat mengganggu organ pernapasan internal yang berujung pada akumulasi lendir berlebih dan penurunan kondisi fisik secara drastis.
Dinda menekankan pentingnya komitmen bersama dan ketegasan dalam menanggulangi bencana kebakaran hutan agar dampak buruk terhadap makhluk hidup dapat diminimalisasi. Ia berharap langkah penanganan dari pihak-pihak terkait dapat berjalan lebih masif dan efektif.
"Sebab, di balik meningkatnya kasus gangguan pernapasan, hewan peliharaan juga menghadapi risiko kesehatan yang membutuhkan perhatian pemilik dan tenaga medis," pungkasnya.
Situasi krisis kualitas udara akibat karhutla ini menjadi peringatan keras bagi para pemilik hewan peliharaan di kawasan terdampak. Selain penanganan langsung dari dokter hewan, langkah pencegahan mandiri di lingkungan rumah sangat diperlukan. Pemilik imbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan bagi hewan peliharaan, menjaga kebersihan udara di dalam rumah, serta segera membawa satwa kesayangan ke klinik medis jika mulai menunjukkan tanda-tanda sesak napas atau penurunan kondisi fisik.
