Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Tiga Strategi Menjaga UMKM Tetap Bertahan di Tengah Karhutla Kalimantan

✍️ Maya Sari 🕒 16 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Pakar UMKM dan Kewirausahaan sekaligus Founder & CEO Wiranesia Foundation, Faransyah Jaya.
Pakar UMKM dan Kewirausahaan sekaligus Founder & CEO Wiranesia Foundation, Faransyah Jaya. Foto: istimewa

kalbarin.com – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi tantangan ketika kabut asap mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi operasional usaha, distribusi produk, hingga kemampuan konsumen untuk berbelanja.

Pakar UMKM dan Kewirausahaan sekaligus Founder & CEO Wiranesia Foundation, Faransyah Jaya atau Coach Faran, menilai diperlukan strategi mitigasi ekonomi agar dampak bencana tidak semakin membebani usaha masyarakat.

Menurutnya, penanganan karhutla perlu memperhatikan kondisi pelaku usaha di tingkat lokal. Tanpa dukungan yang memadai, penurunan omzet berpotensi menghambat keberlanjutan usaha dan melemahkan daya saing UMKM.

"Saat kabut asap melumpuhkan aktivitas harian, omzet UMKM sektor kuliner, ritel, hingga kerajinan daerah ikut merosot drastis. Tanpa intervensi cepat, kita berisiko menghadapi gelombang penurunan daya saing bagi para pelaku usaha di tingkat tapak," ujar Coach Faran dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Coach Faran mengajukan tiga strategi untuk membantu menjaga ketahanan UMKM di tengah gangguan akibat karhutla.

Pertama, memberikan ruang bagi pemulihan keuangan usaha. Pemerintah dan lembaga keuangan didorong mempertimbangkan relaksasi pembayaran serta restrukturisasi kredit bagi UMKM yang terdampak. Penyesuaian tersebut diharapkan dapat membantu usaha menjaga likuiditas ketika pemasukan mengalami penurunan.

Kedua, memperluas pemanfaatan kanal digital. Penjualan melalui platform e-commerce dan sarana pemasaran daring dapat menjadi alternatif ketika interaksi langsung dengan pelanggan terbatas. Digitalisasi juga membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau konsumen di luar wilayah terdampak.

Ketiga, mengembangkan kewirausahaan hijau. Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat lokal didorong berkolaborasi mengembangkan produk yang mendukung pengelolaan lahan gambut secara ramah lingkungan. Pendekatan ini diharapkan dapat mempertemukan pengembangan usaha dengan upaya mengurangi risiko kebakaran berulang.

Coach Faran menegaskan bahwa keberlangsungan UMKM merupakan bagian penting dari ketahanan ekonomi nasional. Karena itu, perlindungan terhadap pelaku usaha perlu diperhitungkan dalam upaya menghadapi dampak krisis iklim dan bencana.

"UMKM adalah tulang punggung ekonomi. Melindungi usaha mereka di tengah krisis iklim adalah bentuk nyata menjaga ketahanan nasional," tutupnya.

MS
Maya SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update