Rel Kereta Api Logistik Kaltim Dikaji Ulang, Kemenhub dan KAI Matangkan Investasi
kalbarin.com – Rencana pembangunan jalur kereta api khusus logistik di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali masuk tahap kajian pemerintah. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) mematangkan perhitungan teknis dan investasi untuk menilai kelayakan proyek tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, rencana pengembangan kereta api membutuhkan perhitungan terperinci agar pelaksanaannya dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kementerian Perhubungan dan KAI terus merencanakan ini, mematangkan segala perhitungan karena pengembangan kereta ini membutuhkan perhitungan yang benar-benar detail,” kata AHY di Balikpapan, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan setelah AHY memberikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-12 Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Menurut AHY, perencanaan pembangunan jalur kereta api harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kebutuhan teknis dan penataan ruang hingga kapasitas fiskal pemerintah pusat maupun daerah serta kepastian investasi.
Pernah Dirintis Bersama Investor Rusia
Rencana pembangunan kereta api logistik di Kaltim bukan hal baru. Proyek serupa pernah dirintis pada masa kepemimpinan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, yang menjabat pada periode 2008–2018.
Saat itu, Pemerintah Provinsi Kaltim menjalin kerja sama dengan perusahaan perkeretaapian Rusia, JSC Russian Railways, melalui anak usahanya, PT Kereta Api Borneo. Jalur tersebut direncanakan untuk mendukung pengangkutan komoditas, terutama batu bara dan kelapa sawit.
Pemprov Kaltim juga menyiapkan sumber daya manusia dengan mengirimkan puluhan mahasiswa untuk mempelajari ilmu perkeretaapian di St. Petersburg State Transport University, Rusia.
Rencana tersebut sempat memasuki tahap seremoni pembangunan. Pada 19 November 2015, Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek jalur kereta api di kawasan Buluminung, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Namun, proyek itu tidak berlanjut. Pada Maret 2022, PT Kereta Api Borneo menyatakan mundur dan membatalkan rencana investasi untuk pengangkutan komoditas.
Keputusan tersebut dikaitkan dengan pertimbangan efisiensi bisnis dan perubahan kondisi ekonomi global.
Potensi Angkutan Batu Bara dan Sawit
Kajian yang kembali dilakukan pemerintah berkaitan dengan potensi komoditas Kaltim yang membutuhkan dukungan jaringan distribusi dalam kapasitas besar. Batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), misalnya, memerlukan sistem pengangkutan menuju kawasan industri, pusat logistik, dan pelabuhan.
Kereta api dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengangkut komoditas dalam volume besar. Namun, kelayakan jalur tersebut tetap bergantung pada kebutuhan angkutan, skema investasi, serta biaya pembangunan dan operasional.
Pengembangan jaringan kereta api di Kaltim juga berkaitan dengan konektivitas kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), meskipun rute dan skema pengembangan yang akan dipilih pemerintah masih perlu dipastikan melalui kajian.
AHY menilai kereta api memiliki peran penting dalam sistem transportasi di berbagai negara, baik untuk mobilitas penumpang maupun distribusi barang.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan pembangunan jalur kereta api didukung kepastian tata ruang, investasi yang memadai, serta permintaan angkutan yang jelas.
Kajian teknis dan finansial yang tengah dimatangkan Kemenhub bersama KAI akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengembangan kereta api logistik di Kaltim setelah rencana investasi sebelumnya tidak berlanjut.
