Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Musim Hujan 2026/2027, 559 Desa di Kalbar Berpotensi Rawan Banjir

✍️ Maya Sari 🕒 07 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Prakiraan Cuaca BMKG.
Prakiraan Cuaca BMKG. Foto: istimewa

kalbarain.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah pada musim penghujan 2026/2027.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan mitigasi serta memastikan kesiapan sumber daya, lokasi evakuasi, jalur penyelamatan dan sistem peringatan dini.

Hal tersebut disampaikan Ria Norsan saat memimpin Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Kalimantan Barat Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Basah Tahun 2026/2027 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (6/10/2026).

“Kita tidak boleh bergerak sendiri-sendiri. Kita harus satu irama,” tegasnya.

Norsan mengatakan, sejumlah bencana yang perlu diantisipasi selama musim penghujan meliputi banjir, banjir rob, banjir genangan, angin puting beliung hingga tanah longsor atau tanah bergerak.

Berdasarkan rekapitulasi BPBD, terdapat 114 kecamatan dan 559 desa/kelurahan di Kalimantan Barat yang berpotensi rawan banjir.

Kapuas Hulu menjadi daerah dengan jumlah desa/kelurahan rawan banjir terbanyak, yakni 104. Berikutnya Landak 82, Melawi 80, Sanggau 59, Bengkayang 45, Sintang 39, Sekadau 36, Mempawah 33, Ketapang 26, Kayong Utara 21, Kubu Raya 18, Singkawang 7, Sambas 6 dan Pontianak 3 kelurahan.

“Saya minta Bapak/Ibu Bupati dan Wali Kota memahami betul titik-titik rawan di wilayahnya masing-masing,” ujar Norsan.

Pemprov Minta Daerah Belajar dari Banjir 2025

Norsan juga meminta pemerintah daerah mengambil pelajaran dari bencana yang terjadi sepanjang 2025.

Berdasarkan data BPBD hingga 9 Desember 2025, tercatat 30 kejadian bencana di Kalimantan Barat yang seluruhnya berupa banjir. Bencana tersebut berdampak terhadap 450.386 jiwa.

Sebanyak 6.654 jiwa mengungsi dan dua orang meninggal dunia. Selain itu, 73.350 unit rumah terdampak banjir.

Dari jumlah tersebut, 89 rumah mengalami rusak ringan, dua rusak sedang dan lima rusak berat. Lima jembatan juga mengalami kerusakan berat.

“Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran nyata penderitaan warga kita. Tahun ini kita harus lebih siap agar dampaknya dapat ditekan,” tegasnya.

Menurut Norsan, risiko banjir di Kalbar dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kerusakan lingkungan, tingginya curah hujan, kapasitas drainase yang rendah, penyempitan dan pendangkalan aliran, kondisi topografi hingga pengaruh pasang laut.

Evakuasi dan Peringatan Dini Harus Disiapkan

Pemprov Kalbar meminta pemerintah kabupaten dan kota menyosialisasikan wilayah rawan bencana serta memastikan tempat evakuasi siap digunakan.

Camat, lurah dan kepala desa juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan serta memastikan tersedianya tempat evakuasi sementara di wilayah yang berpotensi terdampak.

Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan sumber daya, mengaktifkan Pusdalops BPBD apabila telah tersedia dan melaksanakan simulasi pertolongan berdasarkan rencana kontingensi.

“Kesiapsiagaan tidak akan berhasil tanpa peran masyarakat. Kita harus memastikan informasi bencana dipahami dan direspons dengan evakuasi tepat waktu ke tempat yang aman,” katanya.

Penanganan banjir juga membutuhkan langkah jangka panjang, seperti normalisasi waduk dan bendungan, pembangunan kanal, normalisasi saluran serta konservasi tanah dan air di wilayah hulu sungai.

BMKG Ingatkan Cuaca Bisa Berubah Cepat

Kepala BMKG Kalimantan Barat Erika Mardiyanti mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama musim penghujan.

“Informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG perlu menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah antisipasi dan kesiapsiagaan di lapangan. Koordinasi antara BMKG, BPBD, pemerintah daerah hingga masyarakat perlu terus diperkuat agar informasi mengenai potensi cuaca ekstrem dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Erika mengatakan kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat. Karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah perlu mencermati informasi prakiraan serta peringatan dini BMKG secara berkala.

Dengan kesiapsiagaan sejak dini dan koordinasi lintas sektor, risiko korban maupun kerugian akibat bencana hidrometeorologi di Kalimantan Barat diharapkan dapat ditekan.

“Mari kita wujudkan semangat ‘Reaktif, Cepat, dan Tangguh’ dalam melindungi masyarakat Kalimantan Barat,” tegas Ria Norsan.

MS
Maya SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update