Manggala Agni Hadapi Kendala Padamkan Karhutla di Kalbar, Akses Sulit hingga Air Terbatas
kalbarin.com – Petugas Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menghadapi sejumlah kendala dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Sulitnya akses menuju titik api dan terbatasnya sumber air menjadi tantangan dalam upaya mengendalikan kebakaran.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari, mulai 5 hingga 18 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil karena kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah dan kabut asap berpotensi berdampak terhadap Kota Pontianak.
Di tengah kondisi tersebut, petugas terus berupaya menjangkau lokasi kebakaran dan mencegah api meluas. Pemadaman dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lapangan, termasuk pada malam hari.
Akses Menuju Titik Api Menjadi Tantangan
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, menyebut aksesibilitas sebagai salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla.
Tidak semua lokasi kebakaran dapat dijangkau dengan mudah. Petugas perlu mencari jalur alternatif, termasuk melalui jalur air, untuk mencapai titik api dan melaksanakan pemadaman.
Sementara itu, pemadaman melalui udara tidak selalu dapat dilakukan karena bergantung pada kondisi di lapangan. Oleh sebab itu, strategi penanganan harus disesuaikan dengan karakteristik lokasi dan ketersediaan sumber daya.
Kendati menghadapi keterbatasan, petugas tetap berupaya menangani titik api agar kebakaran tidak semakin meluas.
Sumur Bor Jadi Alternatif Sumber Air
Keterbatasan sumber air selama musim kemarau turut menyulitkan proses pemadaman. Kondisi ini terutama menjadi tantangan bagi petugas yang menangani kebakaran di lokasi yang jauh dari sumber air alami.
Sebagai salah satu solusi, Manggala Agni mengembangkan sumur bor untuk menyediakan sumber air alternatif di wilayah yang membutuhkan.
Penyediaan sumber air juga mulai diupayakan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, Polri, dan TNI.
Ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menunjang pemadaman, terutama di kawasan dengan akses terbatas.
Pemadaman Berlanjut hingga Malam Hari
Petugas Manggala Agni tetap melanjutkan upaya pemadaman hingga malam hari sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk menangani kebakaran yang masih berlangsung serta mengantisipasi kemungkinan meluasnya api.
Selain mengandalkan petugas, Kemenhut juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam penanganan karhutla melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Partisipasi warga diharapkan dapat membantu mempercepat respons terhadap kebakaran di wilayah masing-masing sekaligus memperkuat koordinasi dengan petugas.
Upaya tersebut dinilai penting mengingat penanganan karhutla membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama ketika petugas menghadapi kendala akses, keterbatasan air, dan risiko keselamatan.
Tanggap Darurat Berlaku hingga 18 Oktober
Perpanjangan status tanggap darurat karhutla di Kalimantan Barat berlaku hingga 18 Oktober 2026. Selama periode tersebut, upaya pemadaman dan pengendalian kebakaran terus dilakukan untuk mengurangi potensi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.
Koordinasi antarlembaga serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Perkembangan titik api dan kondisi kabut asap juga perlu terus dipantau selama masa tanggap darurat, terutama untuk mengantisipasi dampaknya terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.
