Karhutla Kalbar Hampir Tuntas di Area Target BNPB, Pemadaman Capai 98,4 Persen
kalbarin.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) mendekati tuntas pada area yang masuk target Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga 19 Oktober 2026, sebanyak 11,73 hektare dari total target 11,92 hektare telah berhasil dipadamkan, menyisakan 0,19 hektare yang masih memerlukan penanganan.
Capaian tersebut setara dengan 98,4 persen dari luas target pemadaman BNPB. Meski demikian, petugas masih perlu melanjutkan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah bara api kembali menyala.
Kemajuan ini menjadi perkembangan positif di tengah periode karhutla dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Kalbar. Namun, angka tersebut hanya mencerminkan area yang masuk target penanganan BNPB, bukan total luas lahan yang terbakar di seluruh provinsi.
Ancaman kebakaran juga belum sepenuhnya berakhir. Data titik panas yang diolah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari Fire Information for Resource Management System (FIRMS) masih mencatat 211 titik panas di Kalbar pada Selasa (20/10), berdasarkan pemantauan satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA-20 hingga pukul 19.00 WIB.
Dari jumlah itu, 11 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 196 titik berkepercayaan sedang, dan empat titik berkepercayaan rendah. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit sehingga perlu diverifikasi di lapangan. Tidak setiap titik panas otomatis menunjukkan kebakaran aktif.
Karena itu, capaian pemadaman di area target BNPB belum dapat dijadikan satu-satunya indikator bahwa karhutla di Kalbar telah berakhir. Pemantauan satelit, pemeriksaan lapangan, dan pencegahan kebakaran susulan tetap diperlukan.
Hujan Turun di 10 Wilayah Kalbar
Harapan meredanya karhutla turut didukung laporan hujan yang turun di sejumlah daerah pada 19 Oktober. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Bengkayang, Kapuas Hulu, Ketapang, serta Kota Singkawang dan Pontianak.
Hujan dapat membasahi vegetasi dan permukaan lahan yang mengering sehingga membantu mengurangi kondisi yang mendukung penyebaran api. Namun, efektivitasnya bergantung pada intensitas dan durasi hujan, tingkat kekeringan, serta karakteristik lahan yang terbakar.
Pada lahan gambut, hujan di permukaan belum tentu memadamkan bara yang masih membara di lapisan bawah tanah. Karena itu, petugas tetap perlu melakukan pendinginan dan memeriksa kemungkinan munculnya kembali titik api setelah hujan.
Pemerintah juga mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak. Operasi tersebut berjalan bersama pemadaman darat dan udara serta pengerahan personel ke lokasi kebakaran.
OMC Kalbar Catat 107 Sorti Penerbangan
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah mengintensifkan OMC di empat provinsi terdampak, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Di Kalbar, operasi tersebut berlangsung sejak 22 Agustus 2026. Hingga 20 Oktober, tercatat 107 sorti penerbangan dengan penggunaan 98.800 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl). Volume curah hujan yang dilaporkan dihasilkan selama operasi mencapai 471,2 juta meter kubik.
Prasetyo menjelaskan, pemerintah juga mencoba menggunakan dry ice untuk membantu mengurangi lapisan asap agar sinar matahari dapat masuk dan mendukung proses pembentukan awan. Selanjutnya, penyemaian NaCl dilakukan untuk merangsang pertumbuhan awan hujan.
“Sekarang kita coba pakai dry ice untuk memecah asap sehingga matahari bisa sedikit masuk sebagai pengungkit munculnya benih awan hujan. Baru dihantam pakai OMC NaCl. Alhamdulillah di beberapa kabupaten dilaporkan mulai turun hujan,” ujar Prasetyo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/10).
Ia menegaskan pemerintah terus mengerahkan berbagai upaya untuk mengendalikan kebakaran dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.
“Kita semua berusaha sekeras-kerasnya, semua dilakukan,” katanya.
Meski demikian, OMC merupakan upaya meningkatkan peluang terjadinya hujan, bukan jaminan hujan turun merata di seluruh wilayah sasaran. Pemantauan cuaca dan penanganan langsung di lokasi kebakaran tetap menjadi bagian penting dari upaya pengendalian karhutla.
Kualitas Udara Pontianak Masih Perlu Diwaspadai
Di tengah kemajuan penanganan karhutla dan hujan di sejumlah daerah, kualitas udara Pontianak masih menjadi perhatian. Prakiraan indeks kualitas udara AQI+ menunjukkan angka 146 pada pukul 23.00 waktu setempat, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan perlu membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Angka AQI+ menggambarkan kondisi pada waktu dan lokasi tertentu sehingga dapat berubah mengikuti konsentrasi polutan, arah dan kecepatan angin, serta cuaca.
Dampak karhutla terhadap kesehatan tidak langsung berakhir saat api padam. Asap yang masih tertahan di atmosfer dan partikel yang terbawa angin dapat memengaruhi kualitas udara, sehingga warga tetap membutuhkan perlindungan dari paparan lanjutan.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika udara berasap, menggunakan masker yang sesuai jika harus beraktivitas di luar, serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan otoritas kesehatan.
BNPB Masih Tangani Karhutla di Enam Provinsi
Secara nasional, BNPB mencatat 454,25 hektare lahan berhasil dipadamkan dari total target penanganan seluas 1.024,33 hektare di enam provinsi prioritas di Sumatera dan Kalimantan hingga 19 Oktober 2026. Sebanyak 570,08 hektare lainnya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan oleh satuan tugas gabungan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan merinci, Kalimantan Tengah masih memiliki 389,39 hektare lahan yang belum padam dari target 452,49 hektare. Di Sumatera Selatan, luas lahan yang belum padam mencapai 108,50 hektare dari target 401,67 hektare.
Di Jambi, masih terdapat 64,50 hektare lahan yang belum padam dari target 96,50 hektare. Sementara itu, Kalimantan Selatan menyisakan 7,50 hektare dari target 58,45 hektare.
Adapun di Riau, seluruh lahan seluas 3,30 hektare yang masuk target penanganan dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Kalbar mencatat kemajuan paling mendekati tuntas berdasarkan luasan target BNPB, dengan sisa 0,19 hektare.
“BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait, TNI, Polri, serta pemerintah daerah terus mengintensifkan pengerahan personel dan sumber daya guna menuntaskan sisa titik api di wilayah-wilayah tersebut,” kata Berton.
Data tersebut menunjukkan beban penanganan di setiap provinsi masih berbeda. Sementara Kalbar mendekati penyelesaian targetnya, operasi pemadaman dan pendinginan tetap berlanjut di wilayah lain yang masih memiliki lahan belum padam.
Musim Hujan Diharapkan Bantu Pemulihan
BNPB memperkirakan beban penanganan karhutla berangsur berkurang seiring masuknya musim hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim hujan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalbar diperkirakan berlangsung pada Oktober hingga November. Kalimantan Selatan diperkirakan memasuki awal musim hujan pada November hingga Desember.
Meski demikian, musim hujan tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran. Hujan yang tidak merata, jeda hari tanpa hujan, dan kondisi lahan yang masih kering dapat membuat titik api kembali muncul.
Di Kalbar, prioritas penanganan bukan hanya menyelesaikan sisa 0,19 hektare dalam target BNPB, tetapi juga mencegah kebakaran baru, memeriksa titik panas yang terdeteksi satelit, serta mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat.
Capaian pemadaman sebesar 98,4 persen menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Namun, keberhasilan yang berkelanjutan tetap bergantung pada pemantauan lapangan, pencegahan kebakaran susulan, kondisi cuaca, dan pemulihan kualitas udara di wilayah terdampak.
