Investasi Bengkayang Meningkat, PMTB Tembus Rp4,326 Triliun pada 2025
kalbarin.com – Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Kabupaten Bengkayang mengalami peningkatan sepanjang 2025. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bengkayang, nilai PMTB mencapai Rp4,326 triliun, naik dari sekitar Rp3,965 triliun pada 2024.
Kepala BPS Kabupaten Bengkayang, Guntur Prahara, mengatakan PMTB menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan investasi dan pembentukan modal dalam perekonomian daerah.
Menurutnya, PMTB merupakan bagian dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pendekatan pengeluaran. Komponen tersebut mencerminkan pembentukan aset tetap yang digunakan dalam aktivitas ekonomi.
"Dalam penghitungan PDRB, kita melakukan tiga pendekatan, yaitu pendekatan pendapatan, produksi, dan pengeluaran. Kalau untuk melihat investasi dan pengaruhnya terhadap PDRB Bengkayang, kita bisa melihat dari PDRB pengeluaran," kata Guntur di Bengkayang, Senin.
Ia menjelaskan pembentukan modal di Bengkayang dapat berasal dari investasi pihak luar daerah maupun aktivitas ekonomi yang dilakukan pelaku usaha di dalam Kabupaten Bengkayang.
"PMTB itu bisa berasal dari luar Bengkayang yang menginvestasikan ke Bengkayang dan bisa juga berasal dari Bengkayang sendiri," ujarnya.
Selain PMTB, aktivitas perekonomian dalam PDRB pengeluaran juga dapat dilihat melalui komponen perubahan inventori. Namun, nilainya relatif lebih kecil dibandingkan PMTB.
Iklim Investasi Perlu Dijaga
Meski mencatat adanya pertumbuhan PMTB, BPS Kabupaten Bengkayang menegaskan lembaganya tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan peningkatan investasi.
Menurut Guntur, BPS berperan dalam menyediakan dan menganalisis data statistik yang dapat menjadi gambaran mengenai kondisi perekonomian daerah.
Sementara itu, keberlanjutan investasi menjadi tanggung jawab pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait. Salah satu hal yang dinilai penting adalah menjaga kondisi daerah tetap kondusif bagi kegiatan usaha.
"Kalau menurut saya, minimal untuk mempertahankan, kita harus menjaga iklim tetap kondusif untuk investor datang," ujarnya.
Guntur menilai iklim investasi tidak hanya dipengaruhi kebijakan pemerintah. Kondisi masyarakat, pelaku usaha, keamanan, serta berbagai faktor lainnya juga dapat memengaruhi pertimbangan investor dalam menanamkan modal.
"Kalau investor datang dengan kondisi yang tidak kondusif, baik dari sisi banyak hal, itu akan tidak sangat menarik untuk investor datang. Jadi, itu yang harus dijaga," katanya.
Peningkatan PMTB tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa aktivitas pembentukan modal di Kabupaten Bengkayang terus berkembang. Kondisi iklim usaha yang kondusif dinilai penting agar investasi dapat dipertahankan dan terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
