Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Olahraga
Olahraga

Indonesia Raih 39 Medali di Asian Games 2026, Persaingan Emas Ditentukan Selisih Tipis

✍️ Maya Sari 🕒 08 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Emas di batas milidetik, modal Indonesia ke LA 2028
Emas di batas milidetik, modal Indonesia ke LA 2028 Foto: istimewa

kalbarin.com – Kontingen Indonesia menutup perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan 39 medali, terdiri dari lima emas, 11 perak dan 23 perunggu.

Indonesia finis di posisi ke-16 klasemen perolehan medali pada Minggu (4/10). Raihan lima emas tersebut sekaligus melampaui target empat emas yang sebelumnya ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Menariknya, sejumlah medali emas Indonesia di ajang tersebut lahir melalui persaingan yang sangat ketat. Bahkan, ada kemenangan yang ditentukan hanya dalam hitungan seperseribu detik.

Salah satunya terjadi pada nomor speed putri panjat tebing. Desak Made Rita Kusuma Dewi mencatat waktu 6,062 detik untuk mencapai puncak dinding, unggul tipis atas pemanjat China Deng Lijuan yang membukukan 6,064 detik.

Selisih dua per seribu detik itu mengantarkan Desak meraih emas sekaligus memperbarui rekor Asian Games dan rekor Asia. Catatan tersebut melampaui rekor sebelumnya miliknya sendiri, yakni 6,07 detik yang dibuat pada Kejuaraan Asia di Meishan pada April 2026.

Persaingan tipis juga terlihat pada cabang panahan. Pemanah compound Indonesia, Nurisa Dian Ashrifah, mengalahkan wakil Filipina Amaya Amparo Cojuangco dengan skor 139-137.

Atlet berusia 20 tahun asal Semarang tersebut menentukan kemenangan pada end terakhir. Anak panah pamungkasnya tepat mengenai angka 10 dan membuatnya unggul pada paruh akhir pertandingan dengan skor 29-27.

Nurisa bahkan datang tanpa status unggulan. Pada babak kualifikasi, ia hanya berada di posisi kedelapan dengan 701 poin. Namun, performanya di fase akhir membuat atlet muda tersebut mampu mengamankan medali emas.

Emas dari Perjuangan Sengit

Emas pertama Indonesia di Aichi-Nagoya juga lahir dari pertandingan yang penuh tekanan.

Tim beregu putra bulu tangkis Indonesia harus tertinggal 0-2 dari China pada final, Kamis (24/9). Jonatan Christie kalah dari Shi Yu Qi dengan skor 13-21, 18-21, sementara Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menyerah 20-22, 21-19, 14-21.

Indonesia kemudian bangkit melalui Alwi Farhan yang mengalahkan Li Shifeng dalam tiga gim, 23-21, 15-21, 21-16.

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin selanjutnya menyamakan kedudukan sebelum Moh Zaki Ubaidillah memastikan kemenangan Indonesia pada partai kelima dengan skor 23-21, 21-13.

Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri penantian Indonesia selama 28 tahun untuk kembali meraih emas beregu putra Asian Games sejak Bangkok 1998.

Lima hari berselang, Leo/Daniel kembali menyumbangkan emas dari nomor ganda putra. Mereka mengalahkan pasangan China Liang Weikeng/Wang Chang setelah kalah pada gim pertama 19-21, kemudian membalikkan keadaan dengan kemenangan 21-13 dan 21-18.

Di semifinal, Leo/Daniel terlebih dahulu menyingkirkan pasangan nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae.

Sementara itu, emas dari cabang angkat besi dipersembahkan Rahmat Erwin Abdullah pada kelas 75 kilogram.

Rahmat mencatat total angkatan 366 kilogram, terdiri dari snatch 160 kilogram dan clean and jerk 206 kilogram. Catatan tersebut lebih baik dibanding pencapaiannya saat meraih emas di Hangzhou 2022 dengan total angkatan 359 kilogram.

Tambahan tujuh kilogram tersebut membuat Rahmat kembali berdiri di podium tertinggi Asian Games sekaligus mempertahankan gelar juara.

Selisih Tipis Jadi Evaluasi

Ketatnya persaingan juga terlihat dari atlet Indonesia yang nyaris meraih emas.

Aditya Tri Syahria misalnya, berhasil memecahkan rekor Asian Games nomor speed putra pada babak kualifikasi dengan catatan 4,62 detik. Ia memangkas rekor sebelumnya, 4,95 detik milik Veddriq Leonardo di Hangzhou 2022.

Aditya kemudian melaju ke final setelah mencatat waktu 4,786 detik di semifinal. Namun, peluang meraih medali pupus setelah ia dinyatakan melakukan false start pada partai puncak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa performa atlet tidak hanya ditentukan kemampuan fisik, tetapi juga ketepatan dan ketenangan ketika menghadapi momen penentuan.

Indonesia juga membawa pulang 11 medali perak dari sejumlah cabang olahraga. Di antaranya ganda campuran bulu tangkis Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, tim Mobile Legends: Bang Bang, dua medali dari dayung, serta Sumaya yang mempersembahkan perak dari nomor tunggal putri teqball.

Capaian tersebut menjadi bagian dari evaluasi pembinaan olahraga nasional melalui sistem promosi dan degradasi dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

Kemenpora menempatkan atlet berprestasi dalam jenjang pembinaan berdasarkan target dan potensi. Skema tersebut terdiri dari Lapis Super Elite untuk Olimpiade, Lapis Elite untuk SEA Games dan Asian Games, serta Lapis Potensial bagi atlet usia 12 hingga 18 tahun.

Sistem tersebut diarahkan untuk memastikan sumber daya pembinaan diberikan kepada atlet dan cabang olahraga yang memiliki peluang prestasi tinggi.

Menuju Olimpiade Los Angeles 2028

Capaian di Aichi-Nagoya juga menjadi bagian dari persiapan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

Tiga dari lima nomor yang menyumbangkan emas bagi Indonesia di Asian Games 2026 merupakan nomor yang dipertandingkan di Olimpiade, yakni ganda putra bulu tangkis, angkat besi dan speed putri panjat tebing.

Sementara itu, panahan compound juga diproyeksikan masuk program Olimpiade Los Angeles melalui nomor beregu campuran.

Fondasi prestasi tersebut sebelumnya telah terlihat pada Olimpiade Paris 2024 ketika Veddriq Leonardo dan Rizki Juniansyah menyumbangkan dua emas bagi Indonesia dari panjat tebing dan angkat besi.

Pemerintah juga menyiapkan pola pembinaan jangka panjang untuk menjaga kesinambungan prestasi. Salah satunya melalui usulan pelatnas multiyears agar regenerasi atlet tidak terputus ketika atlet prioritas memasuki masa pensiun.

Pembinaan jangka panjang tersebut diarahkan bukan hanya untuk Olimpiade Los Angeles 2028, tetapi juga menjadi fondasi menghadapi Olimpiade 2032.

Sementara bagi Desak, target berikutnya sudah lebih spesifik. Setelah mengamankan emas di Nagoya dengan catatan 6,062 detik, ia membidik waktu yang lebih cepat, yakni 6,05 detik.

MS
Maya SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update