Sabtu, 24 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

ICDM 2026 Bahas Integrasi Teknologi dan Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana

✍️ Maya Sari 🕒 30 Sep 2026 👁️ 9x dibaca
Rektor Unand Dr. Efa Yonnedi (tengah kacamata) bersama peserta The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 di Convention Hall Unand, Selasa, 29 September 2026.
Rektor Unand Dr. Efa Yonnedi (tengah kacamata) bersama peserta The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 di Convention Hall Unand, Selasa, 29 September 2026. Foto: istimewa

kalbarin.com — Universitas Andalas (Unand) kembali menggelar The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 pada 29–30 September 2026. Konferensi yang berlangsung di Convention Hall Unand tersebut membahas penguatan pengelolaan risiko bencana melalui perpaduan teknologi dan kearifan lokal.

Mengusung tema “Integrating Technology and Local Wisdom for Sustainable Disaster Management”, kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemerintah untuk membahas strategi meningkatkan kesiapsiagaan serta ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Rektor Unand Dr. Efa Yonnedi mengatakan pengalaman bencana di Sumatera Barat, termasuk gempa bumi 2009, menjadi salah satu pembelajaran penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Menurutnya, teknologi memiliki peran penting dalam memperkuat sistem peringatan dini, pemodelan risiko, hingga komunikasi untuk mendukung pengambilan keputusan. Namun, teknologi perlu berjalan beriringan dengan pengetahuan lokal yang telah berkembang di masyarakat.

“Namun, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Di sinilah proses mengintegrasikan teknologi dan kearifan lokal untuk manajemen bencana yang berkelanjutan menjadi penting, karena kita perlu mempertemukan teknologi modern dengan local wisdom,” ucapnya.

Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu masyarakat menghadapi ancaman bencana sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Sumbar, Yozawardi Usama Putra, mengingatkan bahwa waktu terjadinya bencana tidak dapat dipastikan.

“Potensi bukanlah prediksi, sehingga yang harus kita bangun bukanlah ketakutan, tetapi kesiapsiagaan,” ujarnya.

Sekretaris Utama BNPB Rustian menyebutkan, hingga 28 September 2026 telah terjadi 1.980 kejadian bencana di Indonesia. Sebanyak 99,14 persen di antaranya didominasi bencana hidrometeorologi.

Di Sumatera Barat, Indeks Risiko Bencana 2025 tercatat 176,82 dan berada dalam kategori tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan mitigasi serta kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana.

ICDM 2026 juga memperkuat kerja sama antara Unand, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan pemerintah daerah. Kerja sama tersebut mencakup riset, pengembangan teknologi, penguatan data, pendidikan, pelatihan, serta penyusunan rekomendasi kebijakan.

Konferensi ini menghadirkan pembicara dari Indonesia, Filipina, India, Sri Lanka, Australia, dan Malaysia. Hasil penelitian yang dibahas diharapkan dapat dikembangkan menjadi inovasi serta kebijakan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

MS
Maya SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update