Bulog Kalbar Salurkan 75 Ton Beras Premium Rp15.300 per Kg Lewat Program Kapuas Kompak
kalbarin.com – Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Barat menyalurkan 75 ton beras premium dengan harga Rp15.300 per kilogram melalui Program Kapuas Kompak. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah potensi gangguan distribusi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Kalbar, Rasiwan, mengatakan penyaluran tahap pertama dilakukan melalui jaringan Bulog, terutama jaringan ritel Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) di Kalimantan Barat.
“Untuk periode pertama, sebanyak 75 ton kami salurkan melalui jaringan BULOG, khususnya jaringan ritel Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) di Kalbar,” kata Rasiwan di Pontianak, Selasa.
Program Keagenan Penyalur Upaya Stabilisasi Komoditas Pangan Krusial (Kapuas Kompak) tersebut diluncurkan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Barat. Bank Indonesia (BI) turut mendukung program ini guna membantu kelancaran distribusi beras dari daerah produsen hingga ke pelaku usaha di Kalbar.
Rasiwan menjelaskan, program tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menyediakan beras premium dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang berlaku di wilayah Kalimantan Barat.
Menurutnya, pengendalian harga tidak hanya bergantung pada penyaluran beras, tetapi juga perlu didukung pengelolaan stok, pemantauan perkembangan harga, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengatakan karhutla berpotensi menghambat rantai pasok, khususnya pada sektor distribusi. Kendala logistik dapat meningkatkan biaya operasional pelaku usaha dan berisiko memengaruhi harga yang dibayar konsumen.
“Kendala logistik dapat meningkatkan ongkos yang harus dibayar pelaku usaha dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen,” kata Doni.
Ia menyebut dampak karhutla di kawasan Kalimantan diprakirakan memberikan andil sekitar 0,17 persen terhadap inflasi seluruh Kalimantan. Dampak di Kalimantan Barat diperkirakan hampir sama sehingga diperlukan intervensi dari pemerintah daerah dan pihak terkait.
“Dampak di Kalimantan Barat diprakirakan hampir sama sehingga diperlukan langkah intervensi dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mengendalikan inflasi,” kata Doni.
Melalui Kapuas Kompak, Bulog, BI, dan TPID Kalbar berharap koordinasi dalam pemantauan stok, distribusi, dan harga pangan semakin kuat. Upaya bersama ini diharapkan dapat mengantisipasi gejolak harga beras premium, menjaga daya beli masyarakat, serta mendukung pengendalian inflasi daerah.
