Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Profil Abdul Kadir: Jejak Pahlawan Nasional Asal Melawi Berusia Seabad yang Ditakuti Belanda

✍️ Fikri Ramadhan 🕒 29 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Abdul Kadir atau Raden Temenggung Setia Pahlawan, pahlawan nasional dari Melawi, Kalbar.
Abdul Kadir atau Raden Temenggung Setia Pahlawan, pahlawan nasional dari Melawi, Kalbar. Foto: istimewa

Dunia pergerakan nasional Indonesia menyimpan banyak kisah heroik dari para tokoh lokal yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi kedaulatan bangsa. Salah satu figur paling ikonik dari tanah Borneo adalah Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan, seorang tokoh karismatik asal Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, yang mencatatkan rekor sebagai pahlawan nasional dengan usia terpanjang, yakni wafat pada umur 104 tahun. Mengusung taktik perlawanan yang cerdas di tengah cengkeraman kolonial, namanya abadi sebagai simbol persatuan dan keteguhan hati rakyat Kalimantan Barat dalam mempertahankan wilayah kekuasaan lokal dari ekspansi asing.

Berdasarkan catatan sejarah, akhir hayat sang pejuang ditutup secara dramatis ketika pemerintah kolonial Belanda menangkap dan menjebloskannya ke dalam tahanan Benteng Saka Dua di Nanga Pinoh pada tahun 1875. Hanya berselang tiga minggu dari masa penahanannya, ia menghembuskan napas terakhirnya di usia yang menginjak satu abad lebih. Jasadnya kemudian dikebumikan di kawasan Natali Mangguk Liang, wilayah Melawi. Berkat dedikasi serta kontribusi luar biasa dalam mengorganisasi perlawanan rakyat, negara menganugerahinya gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114/TK/Tahun 1999.

Mundur ke belakang, perjalanan hidup Abdul Kadir bermula dari garis keturunan bangsawan lokal di Sintang, Kalimantan Barat, tempat ia dilahirkan pada tahun 1771. Ayahnya yang bernama Oerip mengabdi sebagai seorang hulubalang atau pemimpin pasukan andal bagi Kerajaan Sintang, sementara ibunya bernama Siti Safriyah. Darah kepemimpinan dan keberanian yang mengalir deras dari sang ayah membentuk karakter Abdul Kadir muda menjadi sosok yang tangguh. Sejak usia belia, ia telah menunjukkan loyalitas tinggi dengan bekerja sebagai pegawai di lingkungan istana Kerajaan Sintang.

Kecakapan dan integritasnya membuat ia kerap dipercaya memegang tanggung jawab krusial. Salah satu penugasan penting yang sukses diemban olehnya adalah mengamankan stabilitas Kerajaan Sintang dari berbagai ancaman kelompok pengacau serta aksi perampokan yang meresahkan masyarakat. Berkat prestasi gemilang tersebut, ia kemudian ditunjuk menjadi pembantu ayahnya yang kala itu memegang kendali kepemimpinan di kawasan Melawi. Estafet kepemimpinan pun berlanjut ketika sang ayah wafat pada tahun 1845, di mana Abdul Kadir secara resmi diangkat menjadi Kepala Pemerintahan Melawi menggantikan posisi pendahulunya. Pengangkatan ini disertai dengan penganugerahan gelar bangsawan Raden Tumenggung langsung dari Raja Sintang.

Di bawah kepemimpinannya, wilayah Melawi mengalami perkembangan yang cukup signifikan, terutama dalam sektor peningkatan potensi ekonomi masyarakat. Tidak hanya itu, ia juga memegang peranan krusial sebagai tokoh pemersatu yang berhasil meredకాంkan ketegangan serta menyatukan dua elemen besar di daerah tersebut, yakni suku Dayak dan suku Melayu. Stabilitas internal ini menjadi fondasi yang kuat bagi masyarakat Melawi dalam menghadapi gejolak eksternal yang mulai mengancam kedaulatan daerah.

Ancaman tersebut datang seiring dengan ambisi kolonial Belanda yang mulai menjejakkan kaki di Sintang sejak tahun 1820 dan berupaya memperluas pengaruh kekuasaannya hingga ke wilayah Melawi. Menghadapi kekuatan militer asing yang jauh lebih modern, Abdul Kadir tidak memilih jalur konfrontasi terbuka secara prematur, melainkan menerapkan strategi peran ganda yang sangat efektif. Secara struktural formal, ia tetap menjalankan posisinya sebagai pejabat pemerintahan lokal yang tampak kooperatif demi menjaga stabilitas administratif. Namun di balik layar, ia bergerak secara senyap menghimpun kekuatan rakyat serta membangun kesatuan-kesatuan bersenjata di seluruh penjuru Melawi.

Upaya perlawanan terselubung ini berjalan cukup lama hingga memicu kecurigaan pihak kolonial. Pada tahun 1866, pihak Belanda sempat mencoba meredam pengaruh besarnya dengan memberikan hadiah berupa uang serta gelar kehormatan Setia Pahlawan agar ia bersedia sepenuhnya tunduk dan bekerja sama. Kendati demikian, bujukan material tersebut sama sekali tidak melunturkan prinsip perjuangannya. Ia tetap melanjutkan konsolidasi kekuatan bawah tanah, yang kemudian seringkali mewujud dalam bentuk gangguan keamanan terhadap pos-pos operasional Belanda di wilayah Melawi.

Situasi memuncak pada tahun 1868 ketika pihak kolonial yang merasa geram akibat berbagai aksi perlawanan tersebut akhirnya melancarkan operasi militer besar-besaran ke Melawi. Konflik bersenjata pun pecah dan tidak dapat dihindari lagi. Selama kurun waktu tujuh tahun dari 1868 hingga 1875, Abdul Kadir berhasil mengoordinasikan strategi perlawanan dari balik layar dengan memanfaatkan posisinya untuk mengakses informasi penting seputar rencana operasi militer musuh. Bocoran informasi strategis inilah yang kemudian digunakan oleh para pasukan lokal untuk memukul mundur dan mengacaukan gerakan militer Belanda di bumi Melawi.

FR
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update