Pemprov Kalbar Boyong 30 Layanan Publik Langsung ke Bengkayang Lewat Gema Membangun Desa
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat kembali membuat gebrakan nyata dalam mendekatkan birokrasi pemerintahan kepada masyarakat akar rumput. Melalui program unggulan bertajuk Gema Membangun Desa (GMD), Pemprov Kalbar secara resmi memboyong sekitar 30 jenis layanan publik langsung ke tengah-tengah warga Kabupaten Bengkayang. Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Bola Gamora, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan ini diserbu oleh gelombang antusiasme warga yang ingin menikmati kemudahan pengurusan administrasi hingga layanan kesehatan tanpa harus pergi jauh ke ibu kota kabupaten atau provinsi.
Peluncuran program yang berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026 tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan. Kehadiran puluhan jenis layanan ini dirancang khusus untuk memotong rantai birokrasi yang kerap kali dikeluhkan masyarakat di daerah perdesaan. Berbagai fasilitas penunjang kebutuhan dasar warga, mulai dari pelayanan kesehatan gratis, pengurusan administrasi kependudukan (dukcapil), pembayaran pajak kendaraan bermotor, pasar murah, hingga beragam bentuk pelayanan sosial kemasyarakatan lainnya berpusat di satu titik lapangan bola tersebut.
Dipilihnya Desa Karimunting sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan matang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, kawasan ini dihuni oleh sekitar 12.000 jiwa dengan bentang luas wilayah mencapai 117 kilometer persegi. Menariknya lagi, berdasarkan Indeks Desa tahun 2025, Karimunting telah sukses menyandang status sebagai Desa Mandiri dengan capaian skor gemilang di angka 84,57. Status mandiri ini menjadikan wilayah tersebut dinilai representatif untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat serta menjadi lokomotif kemajuan daerah pesisir Kabupaten Bengkayang.
Dalam sambutannya, Gubernur Ria Norsan memaparkan bahwa langkah jemput bola ini merupakan solusi taktis atas tantangan geografis dan demografis yang dimiliki oleh Provinsi Kalimantan Barat. Dengan total wilayah yang sangat luas serta jumlah desa yang tersebar mencapai ribuan, pemerintah daerah harus memutar otak agar pemerataan pembangunan tidak hanya menjadi angan-angan di atas kertas.
Kebijakan tersebut mempertimbangkan luas wilayah Kalimantan Barat serta jumlah desa yang mencapai 2.046 desa. “Desa kita ada 2046 desa. Kalau kita laksanakan satu per satu setiap desa, tentu tidak mungkin tercapai seluruhnya dalam waktu satu tahun. Maka kita ambil per kabupaten,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendekatan program GMD dirancang secara skala prioritas berbasis wilayah administratif kabupaten. Pola jemput bola ini dinilai jauh lebih efektif untuk merangkum seluruh persoalan di tingkat lokal ketimbang menunggu warga datang melapor ke pusat pemerintahan provinsi yang memakan waktu dan biaya besar. Melalui forum terbuka ini, pemerintah provinsi dapat menyerap aspirasi riil sekaligus memetakan kebutuhan mendesak yang harus segera dieksekusi pada tahun anggaran berikutnya.
Sebelum menyambangi Kabupaten Bengkayang, program serupa juga telah sukses dihelat di wilayah perbatasan negara, tepatnya di Desa Temajuk, Kabupaten Sambas. Konsistensi Pemprov Kalbar dalam menyasar wilayah-wilayah periferi menunjukkan komitmen kuat bahwa pembangunan di Kalimantan Barat tidak boleh bersifat sentralistik di kota-kota besar saja. Daerah terpencil, perbatasan, hingga desa mandiri yang menjadi penyangga ekonomi lokal mendapatkan porsi perhatian yang setara dalam mendapatkan hak pelayanan prima.
Kehadiran program Gema Membangun Desa ini juga menjadi wadah memperkuat koordinasi lintas instansi, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sinergi yang solid antar-pemangku kepentingan terbukti mampu mendongkrak kualitas pelayanan publik secara signifikan. Pemerintah daerah berharap, momentum ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial belaka, melainkan momentum jangka panjang untuk merangsang pertumbuhan ekonomi kreatif, meningkatkan kesadaran hukum administrasi, serta mendongkrak taraf hidup masyarakat desa.
Dengan berakhirnya rangkaian acara pembukaan GMD di Lapangan Bola Gamora Karimunting, ribuan warga tampak memanfaatkan sisa waktu untuk menyelesaikan berbagai urusan administrasi dan memanfaatkan pasar murah yang disediakan. Pemprov Kalbar berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan melanjutkan program jemput bola ini ke kabupaten-kabupaten lainnya di seluruh penjuru Bumi Tanjungpura demi mewujudkan pemerataan kesejahteraan yang merata hingga ke pelosok desa.
