Selasa, 03 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19.000, Ini Faktor yang Menekan

✍️ Maya Sari 🕒 29 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Airlangga Hartarto optimistis rupiah tak menembus Rp19.000 per dolar AS. Simak kondisi nilai tukar, faktor tekanan global, dan langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
Airlangga Hartarto optimistis rupiah tak menembus Rp19.000 per dolar AS. Simak kondisi nilai tukar, faktor tekanan global, dan langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah. Foto: istimewa

kalbarin.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis nilai tukar rupiah tidak akan menembus Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS), meskipun mata uang Indonesia masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global dan faktor domestik.

Airlangga menyampaikan optimisme tersebut saat ditemui di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Ia menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih cukup stabil untuk mendukung perkembangan nilai tukar rupiah.

“Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimis. Nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi, ya,” ujar Airlangga.

Pernyataan itu muncul ketika rupiah bergerak mendekati level Rp18.200 per dolar AS. Meski pemerintah optimistis, pergerakan mata uang masih dipengaruhi dinamika pasar global, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta sentimen investor.

Rupiah Ditutup di Level Rp18.184 per Dolar AS

Pada akhir perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah melemah 28 poin atau sekitar 0,15 persen ke posisi Rp18.184 per dolar AS. Angka tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat Rp18.183 per dolar AS.

Pelemahan tersebut mencerminkan tekanan yang masih berlangsung di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah dapat dipengaruhi permintaan dan penawaran dolar di dalam negeri, perkembangan suku bunga global, harga komoditas, hingga arus modal internasional.

Karena itu, pernyataan Airlangga mengenai kemungkinan rupiah tidak menembus Rp19.000 per dolar AS merupakan optimisme pemerintah, bukan jaminan bahwa nilai tukar akan bertahan di bawah level tersebut.

BI Soroti Konflik Geopolitik dan Penguatan Dolar

Bank Indonesia menyebut ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan.

Ketegangan geopolitik turut menjaga harga minyak dunia pada tingkat tinggi. Berdasarkan keterangan BI yang dikutip dalam naskah sumber, harga minyak berada di atas US$115 per barel pada 28 Oktober 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal.

Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Perubahan ekspektasi tersebut dapat memengaruhi aliran investasi global dan daya tarik aset keuangan di negara berkembang.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa meningkatnya sentimen risk-off ikut mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari pasar negara berkembang atau emerging markets.

Sentimen risk-off terjadi ketika investor cenderung mengurangi investasi pada aset yang dianggap berisiko. Situasi ini dapat meningkatkan permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman dan menekan mata uang negara berkembang.

Faktor Domestik Ikut Membayangi Rupiah

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan di pasar keuangan domestik. BI menyoroti kekhawatiran investor terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Kekhawatiran tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan mendorong perubahan aliran modal.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan turut menjadi faktor yang perlu dicermati.

BI mencatat rupiah melemah 1,15 persen secara bulanan. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar.

Cadangan devisa menjadi salah satu indikator ketahanan eksternal perekonomian. Namun, besarnya cadangan devisa tidak secara otomatis menjamin nilai tukar berada pada tingkat tertentu karena pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global.

BI Lanjutkan Upaya Stabilisasi

Untuk merespons tekanan nilai tukar, BI menyatakan akan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan mendukung rupiah sesuai fundamental perekonomian.

Instrumen yang digunakan mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi spot di pasar valuta asing.

BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan.

Selain intervensi pasar, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar terus diperkuat untuk merespons perkembangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas keuangan.

Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, harga minyak dunia, kebijakan suku bunga AS, dan dinamika aliran modal internasional.

Optimisme pemerintah terhadap rupiah yang tidak menembus Rp19.000 per dolar AS pun akan berhadapan dengan dinamika tersebut. Perkembangan nilai tukar selanjutnya tetap perlu dicermati seiring respons pasar dan efektivitas kebijakan stabilisasi yang ditempuh otoritas.

MS
Maya SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update